Tinggal di perumahan merupakan pilihan bagi beberapa
kalangan yang berpikir praktis, tidak ingin direpotkan dengan urusan desain dan
konstruksi. Di samping harga dan kualitas yang tidak bisa kita custom
pemakaianya, beberapa aspek lingkungan juga dimempengaruhi pilihan untuk
memilih tinggal di perumahan atau tinggal kampung.
Dalam konteks hunian, isolasi ini bisa berwujud macam-macam
mulai dari gangguan, penolakan, ancaman, sampai dengan ketidakpedulian warga
sekitar terhadap penghuni “perumahan”.
Dalam sebuah kasus, ketika warga sebuah perumahan kecil ada
yang meninggal, lingkungan sekitarnya tidak mau menerima pemakaman di TPU
wilayah tersebut. Kerugian yang lain dan tinggal di lingkungan kecil ini adalah
soal fasilitas umum dan sosial yang sudah pasti sangat minim atau bahkan nihil.
Taman bermain pasti tidak ada, tempat beribadah umumnya juga tak ada.
Masalah lain yang sering muncul adalah ihwal administrasi
kependudukan atau menyangkut rukun tetangga (RT). Karena jumlah yang terlalu
kecil, masalah-masalah kebertetanggaan harus ditanggung oleh keluarga yang
jumlahnya sedikit Akibatnya, biaya dan urusan untuk itu (sampah, petugas
keamanan, administrasi, dan sebagainya) bisa membengkak. Bila digabung, belum
tentu juga RT akan menerima warga secara setara, karena dianggap eksklusif
tadi.
Akibatnya, untuk urusan ini itu, biasanya warga di perumahan
semacam ini akan dipungut lebih mahal atau urusannya dibuat lebih ribet.
Apa saja keuntungannya?
Perumahan berskala kecil ini digemari karena pelbagai alasan. Di antaranya:
- Kawasan atau lingkungan sekitarnya sudah relatif ramai penduduk dan dekat dengan pusat kegiatan perekonomian di wilayah tersebut. Meskipun tidak berada di tengah kota, wilayah di mana perumahan tersebut berada sudah dapat dibilang hidup. Ada sebagian konsumen rumah yang cenderung memilih hunian semacam ini daripada tinggal di pemukiman berukuran besar tapi suasananya masih belum hidup dan semarak.
- Layanan pendidikan, kesehatan, pusat perbelanjaan biasanya terletak tidak terlalu jauh dari lokasi perumahan. Dengan “menumpang” layanan-layanan umum yang tersedia di sekitar wilayah tersebut, pengembang memanfaatkannya sebagai nilai tambah yang diiming-imingkan kepada calon konsumen. Boleh dikatakan, pengembang mendapatkan fasilitas “cuma-cuma” tanpa harus mengeluarkan biaya atau menggandeng pihak ketiga dalam penyediaannya.
- Eksklusivitas umumnya juga menjadi salah satu “daya tarik” yang dijual oleh pengembang kepada calon konsumen. Mereka berada di lingkungan yang terpisah dengan penduduk/warga kampung.
Lalu Apa saja kerugiannya? Silakan komentar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Note: Harap berkomentar menggunakan bahasa yang sopan, bijak, dan bertanggung jawab!
Untuk memeriksa komentar, centrang "Beri Tahu Saya" di pojok bawah Komentar